Jakarta, 2 November 2013 – Games atau permainan biasanya identik dengan anak-anak. Namun di era Internet seperti sekarang dan ditambah dengan percepatan konvergensi media yang terjadi, games bukan lagi menjadi konsumsi anak namun telah meliputi bebagai usia, dari anak hingga dewasa. Industri gaming telah menjadi sebuah industri yang sangat menguntungkan dan menjadi salah satu kontributor pertumbuhan dan perkembangan industri Information and Communication Technology (ICT), tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia.
Transparency Market Research dalam laporannya menyebutkan bahwa pasar gaming dunia pada 2011 mencapai US$70,5 miliar dan pada 2015 nilainya diperkirakan akan mencapai US$117,9 miliar. Asia Pasifik menjadi wilayah dengan pertumbuhan pasar gaming terbesar di dunia. Besarnya pertumbuhan pasar gaming disebabkan oleh semakin canggihnya fitur yang ditawarkan seluruh games yang ada di pasar dan meningkatnya jumlah pengguna Internet dunia[1].
Dan seperti telah disebutkan di atas, para penikmat games ini tidak hanya berasal dari kalangan anak-anak tetapi juga orang dewasa yang mencari alternatif hiburan di tengah kesibukan mereka. Sebagian orang bahkan menjadikan games sebagai bagian terpenting hidup mereka, baik sebagai pembuat games, produsen hardware pendukung industri gaming, aksesoris, dan lain-lain. Porsi terbesar pasar gaming dimiliki oleh para pengembang game Dan untuk memuaskan dahaga para gamers lokal, Dyandra Promosindo dan Digitalife menggelar Jakarta Game Show (JGS) 2013. Gelaran JGS kali ini diramaikan oleh beberapa publisher game lokal seperti Garena, Megaxus, Maingames, WaveGame, Pandawa dan lain-lain. Yang menjadi fokus di JGS 2013 yang usung oleh Dyandra Promosindo dan Digitalife adalah menghadirkan liga-liga game online terbesar di Indonesia yang berorentasi internasional. Dan yang paling menarik adalah digelarnya tiga turnamen game bertaraf internasional yaitu Asian Cyber Game (ACG) 2013, Indonesia Heroes of Newerth National Championship (IHNC), serta Counter Strike Online World Championship.
“Sampai dengan tahun lalu industri gaming Indonesia menghasilkan sekitar seribu games. Nilai pasar game di Indonesia diperkirakan akan terus bertumbuh di tahun-tahun mendatang. Ini menjadi salah satu pertimbangan mengapa Dyandra menggelar Jakarta Game Show 2013,”. terang Dwi Putri Winahyu, Manager IT Division Dyandra Promosindo. Wina juga menambahkan tujuan JGS adalah untuk memberikan ruang bagi pengembang lokal untuk menunjukkan potensinya.
Edukasi Games
Selain menggelar turnamen games internasional dan berbagai games menarik lainnya, JGS 2013 juga mengadakan talkshow, seminar serta workshop yang menjadi ajang edukasi bagi para pengunjung dan pecinta games Indonesia. Kegiatan ini membahas berbagai topik yang berkaitan dengan dunia gaming, salah satunya adalah cara membuat games menggunakan software UNITY. Workshop ini digelar kemarin oleh Heroges Matrik Niames yang bekerjasama dengan HotGame dan PCPlus. Workshop dibagi menjadi dua sesi dimana sesi pertama membahas mengenai cara membuat game 2D dan sesi kedua membahas cara membuat game 3D. Wira perwakilan dari Heroges berharap apa yang peserta dapatkan dari workshop singkat ini bisa bermanfaat bagi mereka. “Mudah-mudahan pengetahuan ini bisa memacu mereka untuk terus menggali kemampuan dalam membuat software games dan ikut memajukan industri games Indonesia,” ujar Wira.
Ajang Jakarta Game Show 2013 juga dimeriahkan oleh beberapa komunitas seperti komunitas Indonesia Tekken Battle, Komunitas Marvel Indonesia, dan lain-lain. Komunitas gaming menjadikan ajang JGS 2013 sebagai gathering dan saling berbagai informasi mengenai game favorit mereka. Komunitas Marvel Indonesia bahkan menjadikan JGS 2013 sebagai tempat untuk memperkenalkan logo baru mereka yang diadakan hari ini (3/11/13) di panggung utama Plenary Hall.
Sebelumnya dalam acara talkshow yang digelar dengan nuansa kasual di panggung utama JGS 2013, dibahas mengenai pilihan gamers terkait game yang mereka mainkan, beli secara legal atau cukup mencari bajakan. Tak bisa dipungkiri bahwa besarnya nilai pasar gaming seperti disebutkan di atas ikut membuat pasar gelap gaming juga tumbuh subur. Namun perlu diingat bahwa dengan membeli games asli dan bukan versi bajakan, para pecinta games telah ikut berperan aktif mengembangkan industri games, terutama games-games lokal yang merupakan buah karya anak bangsa yang patut diapreasiasi.
Kombinasi pameran Indocomtech 2013 dan Jakarta Game Show 2013 di area JCC menjadi magnet yang menarik banyak pengunjung. Hingga Jumat kemarin (1/11/13) panitia mencatat sebanyak 105.384 pengunjung memadati area pameran. Besarnya jumlah pengunjung hingga hari ketiga kemarin membuat panitia optimis bisa menarik pengunjung lebih banyak lagi pada akhir minggu ini.
Musik, Musik, dan Musik
Selain dua pameran di atas, Jakarta Convention Center, tepatnya di Assembly Hall, juga dimeriahkan dengan pameran Jakarta Audio Pro Expo 2013 (JAPEX 2013). Japex adalah pameran perlengkapan instrumen musik dan sound system terbesar di Indonesia dan menjadi ajang pertemuan tahunan yang mempertemukan para profesional di bidang musik tanah air. Pameran ini diadakan oleh Debindo Mitra Dyantama yang merupakan sister company Dyandra Promosindo selaku penyelenggara Indocomtech 2013 dan JGS 2013.
Pameran ini menampilkan berbagai alat musik dari beberapa merek terkenal seperti Saban, Fender, Boss, Ibanez, serta berbagai aksesoris terkait instrumen musik. Japex 2013 juga diisi dengan berbagai live show serta coaching clinic dan seminar yang digelar setiap hari hingga 3 November 2013. Rangkaian kegiatan ini tentu akan sangat menghibur para pengunjung Japex 2013 yang tidak hanya berasal dari dalam negeri tetapi juga para penikmat dan penggiat musik luar negeri.
Artikel ini diambil dari Indocomtech 2013

0 comments:
Post a Comment